To Build the World Anew

Bulan kemerdekaan Republik Indonesia ini mengingatkan kita tentang sebuah pesan yang “menggetarkan” dunia dan mampu melampaui zamannya; Mendalami Communication Readiness dari Pidato Bung Karno di PBB.

CASE STUDY

Sugeng Sulaksono

8/28/20264 min read

Sekitar 63 tahun berlalu, dunia melalui UNESCO, akhirnya mengakui pidato presiden pertama Republik Indonesia Soekarno (Bung Karno) masuk sebagai Memory of The World Register atau Warisan Arsip Dunia karena gagasan dalam narasinya berdampak signifikan secara global.

Masukkan teks Pada 30 September 1960, Bung Karno tampil di podium. Berdiri dan berbicara di hadapan Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Ini adalah sidang ke 15 yang diselenggarakan organisasi antar-bangsa tersebut.

Indonesia ketika itu masih merupakan negara yang relatif muda sementara dunia berada dalam ketegangan Perang Dingin. Dua kekuatan besar (blok Barat dan blok Timur) dengan ideologi berbeda sedang berhadapan setelah berakhirnya Perang Dunia kedua.

Sementara, banyak negara Asia dan Afrika baru saja meraih kemerdekaan dan sedang mencari tempatnya dalam tatanan dunia yang baru.

Di tengah situasi tersebut, Bung Karno menyampaikan pidato yang diberi judul "To Build the World Anew" yang artinya Membangun Dunia Baru.

Soal bagaimana gestur, artikulasi, dan karisma teatrikal Bung Karno saat berpidato sekitar 90 menit itu tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Tegas dan meyakinkan. Tidak nampak keraguan sedikit pun.

Keunggulan public speaking tersebut memperkuat dan melengkapi kekuatan narasi yang Bung Karno sampaikan sebagai gagasan dari Indonesia untuk dunia. Bukan bercerita tentang perkembangan pasca-kemerdekaan apalagi sekadar kekayaan alam Indonesia saja.

Bung Karno menawarkan nilai-nilai ideologi Pancasila sebagai jalan tengah. Lima Sila tersebut menjadi ideologi alternatif bagi dunia yang universal untuk menciptakan perdamaian global. Bukan lagi hanya terbatas pada Kapitalis (blok Barat) dan Komunis (blok Timur).

Selain itu, Bung Karno juga menyampaikan narasi kritik terhadap PBB. Mendesak reformasi total agar organisasi ini lebih adil, demokratis, dan tidak hanya didominasi oleh negara-negara besar pemenang Perang Dunia kedua. Mengkritik blok Barat yaitu Amerika Serikat (AS) dan sekutunya karena markas PBB di New York dan menuntut penghapusan hak veto yang mereka kuasai.

Bung Karno juga menuntut berhentinya segala bentuk penjajahan, imperialisme, dan neo-kolonialisme di seluruh belahan bumi karena merupakan akar konflik dunia.

Tentu saja, mayoritas peserta forum menyambut dengan gegap gempita dan antusiasme tinggi atas narasi Bung Karno. Terutama dari negara-negara di Asia dan Afrika yang belum lama meraih kemerdekaan.

Di sisi lain, narasi ini memunculkan keberatan dan kekhawatiran terutama dari blok Barat. Sedangkan blok Timur meningkatkan perhatian karena menolak blok Barat ternyata tidak berarti memilih komunis.

Dari sudut pandang media, pers internasional banyak menyoroti kemampuan dan bobot positif atas pidato Bung Karno. Pakar dan pengamat politik menyebutnya sebagai salah satu pidato terbaik dan paling ikonik yang pernah disampaikan dalam sejarah Sidang Umum PBB.

Dari pidato ini juga lah, sekitar setahun kemudian, 5 negara termasuk Indonesia berkumpul dalam satu suara mendeklarasikan Gerakan Non-Blok. Menyuarakan aspirasi dan kedaulatan negara-negara Asia-Afrika yang baru merdeka untuk menentukan nasib mereka sendiri tanpa intervensi asing.


Memory of the World Register

Executive Board UNESCO, 24 Mei 2023, menetapkan pidato Bung Karno yang terjadi sekitar 63 tahun sebelumnya itu dengan status Memory of The World (MoW) atau Warisan Ingatan Dunia dan secara resmi menetapkan arsip pidato tersebut sebagai bagian dari Memory of the World Register atau Warisan Arsip Dunia.

Dari sini kita bisa melihat bahwa pesan yang disampaikan dalam hitungan menit bisa hidup dan berlangsung jauh lebih panjang. Bahkan masih relevan hingga sekarang.

Dari peristiwa ini juga mungkin kita bisa belajar tentang apa yang membuat sebuah komunikasi menjadi sangat kuat.

Jika kita melihat pidato To Build the World Anew dari perspektif komunikasi, kekuatannya bukan hanya pada bagaimana Bung Karno berbicara. Hal yang jauh lebih penting adalah apa yang dia bawa kepada audiensnya.

Bung Karno tidak datang ke forum PBB hanya untuk berbicara tentang Indonesia tapi membawa gagasan tentang dunia yang sedang berubah.

Sebuah pesan akan menjadi lebih kuat ketika tidak hanya berbicara tentang siapa yang menyampaikannya, tetapi juga tentang mengapa pesan tersebut penting bagi orang yang mendengarnya.

Memahami siapa audiens atau stakeholder yang sedang diajak berkomunikasi merupakan salah satu prinsip paling mendasar dalam komunikasi. Pidato Bung Karno memberikan contoh yang menarik mengenai hal tersebut.

Pelajaran komunikasinya secara umum adalah memahami audiens bukan berarti mengubah siapa diri kita. Memahami audiens berarti memahami bagaimana gagasan kita dapat menjadi relevan bagi mereka.

Ini berlaku dalam komunikasi apa pun. Termasuk komunikasi perusahaan.

Narasi Membuat Pesan Memiliki Arah

Sebuah key message memang penting. Meski begitu, pesan yang kuat tidak selalu cukup jika hanya berupa satu kalimat.

Jika berkaca pada narasi pidato Bung Karno, pesan membutuhkan konteks. Membutuhkan alasan mengapa pesan tersebut penting. Membutuhkan hubungan antara persoalan, gagasan, dan tujuan.

Dalam pidato To Build the World Anew, kita dapat melihat alur pemikiran yang kurang lebih bergerak dari kondisi dunia yang penuh pertentangan, persoalan kolonialisme dan ketidakadilan, kebutuhan akan tatanan dunia yang lebih baik, hingga gagasan mengenai prinsip-prinsip yang dapat mempertemukan negara-negara yang berbeda.

Pesannya tidak berdiri sendiri. Ada perjalanan pemikiran yang mengantarkan audiens dari masalah menuju gagasan tentang solusi. Dan narasi seperti inilah yang membuat sebuah pesan lebih mudah dipahami, diingat, dan memiliki makna.


Dari Indonesia Menjadi Percakapan Dunia

Tentu saja ini tentang percakapan yang berdampak positif pada citra dan posisi Indonesia di mata dunia. Bung Karno membawa sesuatu yang sangat Indonesia ke forum internasional tetapi tidak menyampaikannya sebagai sesuatu yang hanya relevan bagi Indonesia.

Pancasila ditempatkan dalam percakapan yang lebih luas mengenai perdamaian, keadilan sosial, kemanusiaan, dan hubungan antarbangsa. Karena itu, gagasan tersebut dapat berbicara kepada audiens yang lebih luas daripada sekadar masyarakat Indonesia.

Peristiwa tersebut menjadi semacam studi kasus yang memberikan pelajaran penting bagi komunikasi organisasi. Sebuah organisasi atau perusahaan tentu memiliki kepentingannya sendiri.

Perusahaan memiliki produk, target bisnis, program, kebijakan, dan pencapaian. Sebaliknya, publik tidak selalu tertarik mendengar semua hal tersebut hanya karena perusahaan menganggapnya penting.

Pertanyaan yang lebih relevan adalah: Apa relevansi pesan kita bagi mereka? Ketika sebuah organisasi mampu menemukan titik temu antara apa yang ingin disampaikan dan apa yang penting bagi audiensnya, komunikasi mulai berubah. Company message akan menjelma sebagai meaningful narrative.

Kekuatan Pesan Sebagai Investasi yang Bernilai

Melihat pidato Bung Karno tersebut kita bisa menyadari bahwa pesan yang baik dapat hidup lebih lama daripada pembicaranya itu sendiri. Sebuah gagasan yang lahir dari konteks tertentu dapat terus menemukan maknanya ketika ia memiliki nilai yang melampaui konteks awalnya.

Begitu lah kekuatan sebuah narasi. Tidak berakhir ketika mikrofon dimatikan. Tergantung muatannya apakah akan terus dikutip, diperdebatkan, atau dipelajari.

Dalam dunia komunikasi modern, kita sering mengejar sesuatu yang sangat cepat. Ini penting tetapi ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting: apa yang kemudian diingat publik, bahkan dalam jangka waktu yang lama?

Pidato Bung Karno di PBB memberikan sebuah gambaran yang sangat panjang tentang pertanyaan tersebut. Sebuah pesan yang disampaikan pada 1960 masih dibicarakan puluhan tahun kemudian.

Mungkin, ini adalah salah satu bentuk Communication Readiness yang paling matang.(*)


© 2026 MAKATA. All rights reserved

NAVIGASI
LAYANAN KAMI
HUBUNGI KAMI

Konsultan strategic communication untuk membantu perusahaan membangun pesan yang tepat, menjaga reputasi, dan mencapai tujuan bisnis.