Distrik Buzi, Mozambique: Sejuk dan Ramah Tamah Melampaui Ekspektasi

Komunikasi Strategis / Project Profile Video

Diluar ekspektasi memang. Apa yang terbayang pada diri kami sebelum berangkat adalah; cuaca panas, gurun kering yang gersang, masyarakat sekitar yang kurang ramah. Ya seputar itu yang terbersit di pikiran ketika bersiap menjalankan pekerjaan di Buzi, Mozambique, Afrika bagian Tenggara.

Kami ke sana untuk sebuah kegiatan produksi video Project Profile di bawah supervisi PT Gelombang Seismic Indonesia (GSI). Keberangkatan ke negara yang berbatasan dengan Eswatini, Tanzania, Malawi, Zambia, dan Zimbabwe itu terjadi pada jelang akhir Juni 2024.







Mengacu pada kebanyakan musim di negara lain di dunia, bahkan termasuk Indonesia, Juni bukan lah momen cuaca dingin. Wajar jika kami mengira akan berhadapan dengan segala perkiraan seperti terbersit di awal.

Maka kami juga berpikiran bahwa pekerjaan di blok Buzi milik Buzi Hydrocarbons Pte. Ltd (anak usaha PT Energi Mega Persada Tbk / ENRG) ini akan sangat menguras keringat.

Namun semua anggapan itu langsung sirna. Bahkan seketika saat menginjakkan kaki di Buzi setelah menempuh penerbangan panjang Jakarta - bandara Beira selama lebih dari 23 jam dilanjutkan perjalanan darat sejauh hampir 150 km.


Faktanya di sana sejuk! Sungguh cuacanya memberikan kenyamanan. Mendukung terjaganya mood kerja yang positif. Suhunya fluktuatif di kisaran belasan sampai 20 derajat celcius.

Apakah faktor cuaca ini juga memengaruhi suasana hati masyarakat di sana? Bisa jadi. Faktanya mereka ramah dan terbuka kepada masyarakat dari negara lain.

Tidak tercermin jejak “kekerasan” pada tatapan dan sikap mereka meskipun pernah melewati perang sipil berkepanjangan antara tahun 1977 sampai 1992.

Sebaliknya, mereka memerlihatkan semangat untuk berkembang dan maju. Terlihat jelas bahwa mereka ingin “lepas landas” dari status yang pernah melekat sebagai salah satu negara miskin dan tertinggal di dunia.

Toh faktanya mereka memiliki kekayaan alam yang cukup berlimpah. Saatnya mulai mengoptimalkan dan menikmati hasilnya.

Oiya ada satu informasi menarik dari warga lokal. “Kalau punya uang setara sekitar Rp87 juta bisa dapat tanah sekitar 500 meter di Buzi.”

Jangan salah, Buzi kebetulan juga sedang membuka potensi pariwisata dan terbuka untuk investor seluas-luasnya. Tertarik?


Video Project Profile Bagian dari Komunikasi Strategis

Bagi kami, video Project Profile bukan sekadar dokumentasi kegiatan di lapangan. Setiap adegan perlu disusun untuk menjawab pertanyaan penting para pemangku kepentingan: seberapa siap perusahaan menjalankan pekerjaan, bagaimana standar kerjanya diterapkan, dan mengapa kapabilitasnya layak dipercaya?

Buzi memberikan jawaban tersebut secara natural.

Pesan utama video ini tidak kami bangun melalui slogan. Pesan tersebut diperlihatkan melalui bukti-bukti visual: aktivitas operasional, kesiapan tim, kedisiplinan kerja, kemampuan beradaptasi, serta koordinasi yang berlangsung di lapangan.

Video Project Profile tersebut pada akhirnya bukan hanya menjadi arsip kegiatan. Ia menjadi aset reputasi yang memperlihatkan kredibilitas, kesiapan operasional, dan kemampuan perusahaan menghadapi kompleksitas pekerjaan lintas negara.

Sebab terkadang, untuk mengatakan bahwa sebuah perusahaan telah memiliki jangkauan internasional, kita tidak perlu menuliskannya dalam huruf besar.

Jabatan Strategis Semakin Jauh dari Pekerjaan Teknis

Media Training

Alasan Kenapa Eksekutif Perusahaan, Pemilik Bisnis, dan Pengampu Jabatan Strategis Lainnya Perlu Memiliki Kesiapan Komunikasi

Tentu bukan bermakna bahwa seseorang yang duduk di level jabatan strategis tidak perlu mengerti teknis. Tetap butuh dan jika diperlukan, sesekali ikut turun tangan mengerjakan hal-hal yang bersifat teknis.

Seorang Direktur Keuangan yang mendapatkan promosi dari sebelumnya Manajer Keuangan, misalnya, otomatis peran teknisnya sudah tidak seperti sebelumnya.

Pada jabatan baru yang lebih tinggi itu, dia sudah harus memiliki kemampuan delegasi. Mempercayakan aspek teknis kepada bawahan pengganti posisi dia sebelumnya.

Pada saat yang sama, sebagai seorang Direktur, dia harus mampu menjalankan peran yang berbeda. Meskipun sama tentang keuangan namun harus melihat dari posisi yang lebih tinggi (helicopter view) sehingga bisa merumuskan arah kebijakan. Ini kita kenal sebagai peran atau pekerjaan yang lebih strategis.

Fakta juga bahwa semakin hari, ditambah perkembangan teknologi digital, komunikasi semakin disadari sebagai bagian dari aspek penting dalam menjalankan peran di level strategis. Semakin tinggi kompetensi maka semakin besar tanggung jawab komunikasi.

Kemampuan komunikasi di level strategis bukan sekadar untuk kebutuhan internal: mengkomunikasikan kebijakan dan arah strategis ke tim di perusahaan. Tetapi juga komunikasi secara horizontal di sesama Direksi (termasuk dengan Komisaris) dan yang lebih penting adalah komunikasi dengan para pemangku kepentingan di luar perusahaan, termasuk kepada media.

Bagi perusahaan publik, kesiapan komunikasi akan terasa jauh lebih penting lagi. Sebab terdapat sejumlah agenda wajib yang menuntut Direksi serta Komisaris berhadapan dengan publik terutama investor dan media. Momen tersebut biasanya melalui Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Public Expose yang memang wajib sekali dalam setahun bagi perusahaan publik yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Kegiatan Sharing Session

Salah satu Project Story kami membuktikan hal tersebut. Belum lama ini MAKATA dipercaya menjalankan kegiatan ‘Executive Communication & Reputation Session’ yang merupakan kegiatan sehari dengan para peserta adalah seluruh direksi salah satu perusahaan BUMN. Jumlahnya 7 orang peserta.

Melihat para peserta adalah para ekspert di industrinya dengan jabatan tertinggi di perusahaan, kami sangat berhati-hati sejak menentukan nama kegiatan. Maka tidak ada kata ‘Training’ maupun terjemahannya atau yang semakna dengan itu.

Ketika acara berlangsung nuansa yang dibangun juga dijauhkan dari kesan menggurui. Pengkondisian ini juga dibantu oleh Corporate Secretary perusahaan tersebut yang dengan tegas mengatakan pada sesi pembukaan bahwa kegiatan ini merupakan “Sharing Session”.

Brief yang sama kami lakukan kepada tiga orang pemateri yang mewakili ahli dan berpengalaman di bidangnya masing-masing: Praktisi PR (Communication Crisis), Praktisi Komunikasi Pemerintahan, dan Jurnalis Senior yang menjabat sebagai Direktur Pemberitaan di salah satu media nasional terkemuka.

Sesi praktik dalam kegiatan ini diminimalisir. Cukup dengan doorstop kejutan di awal acara dan doorstop terencana setelah sesi 1 dan 2 berakhir.

Selebihnya, banyak bersifat interaktif meskipun diawali dengan sajian materi sesuai dengan silabus yang sudah disepakati. Sisanya, dan ini tidak sedikit, banyak diskusi yang bersifat insight dengan berbagai informasi bersifat ‘rahasia’ yang mengemuka dalam kegiatan ini.

Secara umum, para peserta sangat antusias karena teori dan praktik komunikasi yang tersaji bukan sekadar teori. Banyak hal yang baru didengar, disadari, dan kemudian dimengerti oleh para peserta.

Salah satu contoh pembahasan adalah Stakeholder Mapping. Dibagi berdasarkan kelompok dan bagaimana kebijakan terutama cara berkomunikasi dengan masing-masing stakeholder yang berbeda satu sama lain. Meskipun tetap dalam satu Payung Narasi dan Key Message yang sama.

Termasuk juga memahami dan menyiapkan SOP komunikasi krisis. Situasi krisis merupakan hal yang tidak kita inginkan namun ini bisa terjadi kepada siapapun dan kapanpun. Bahkan dari kejadian kecil yang tidak disangka-sangka.

Pada intinya, kegiatan ini merupakan bagian dari Communication Readiness. Sebuah usaha untuk membangun kesiapan komunikasi untuk berbagai potensi situasi sehingga tidak mengganggu arah serta kebijakan strategis perusahaan.(*)

© 2026 MAKATA. All rights reserved

NAVIGASI
LAYANAN KAMI
HUBUNGI KAMI

Konsultan strategic communication untuk membantu perusahaan membangun pesan yang tepat, menjaga reputasi, dan mencapai tujuan bisnis.