Membangun Kesadaran; Podcast adalah Wawancara Publik yang Direkam

Mendalami ungkapan Raditya Dika tentang podcast, bagaimana perkembangannya, dan fenomena Clipper.

Sugeng Sulaksono

8/11/20264 min read

“Podcast itu kan karena yang nonton masif, ada hal-hal yang kita batasi dong.” Raditya Dika, Podcaster (Podcast Duo Bahlul, kanal Noice, 3 Agustus 2026).

Podcast selama ini identik dengan percakapan yang santai. Formatnya ngobrol. Durasi yang panjang memberikan ruang bagi narasumber untuk bercerita, berbagi pengalaman, membahas berbagai sudut pandang, bahkan sesekali keluar dari topik utama.

Namun, perkembangan podcast menunjukkan bahwa batas antara "media hiburan" dan "media komunikasi" semakin tipis.

Pernyataan Raditya Dika dalam perbincangannya di podcast Duo Bahlul di kanal Noice di atas menarik untuk dibahas. Meskipun podcast memberikan ruang untuk berbicara panjang dan relatif santai, ia tetap merasa perlu memiliki batasan mengenai apa yang disampaikan. Salah satu alasannya sederhana: ia tidak dapat mengetahui secara pasti siapa saja yang akan menonton atau mendengarkan percakapan tersebut dan seberapa luas jangkauan audiensnya.

Kesadaran tersebut membuatnya lebih selektif dalam membicarakan hal-hal yang bersifat pribadi, termasuk pemikiran tertentu maupun informasi keseharian tentang dirinya.

Menariknya, pertimbangan tersebut sebenarnya bukan hanya relevan bagi seorang figur publik.

Ia merupakan salah satu prinsip penting dalam komunikasi publik: ketika sebuah percakapan berpotensi dikonsumsi oleh publik secara luas, maka narasumber perlu memahami batas, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan.

Podcast Bukan Lagi Sekadar "ngobrol"

Perkembangan podcast di Indonesia menunjukkan perubahan yang cukup signifikan.

Pada awalnya, podcast lebih dikenal sebagai media berbasis audio. Kini, podcast semakin berkembang menjadi format audiovisual. Riset Populix pada 2025 mengenai kebiasaan masyarakat Indonesia menikmati podcast menunjukkan bahwa responden lebih banyak mengaksesnya dalam format video. YouTube juga menjadi salah satu platform utama untuk menikmati video podcast.





Source: Populix

Perubahan format tersebut membawa konsekuensi.

Ketika podcast hanya dipahami sebagai audio, fokus utama audiens berada pada apa yang dikatakan. Ketika podcast menjadi video, audiens juga melihat bagaimana seseorang mengatakannya.

Ekspresi wajah, gestur, intonasi, respons spontan, bahkan bahasa tubuh ikut menjadi bagian dari komunikasi.

Podcast juga tidak selalu dikonsumsi secara utuh.

Satu percakapan yang berlangsung selama satu jam dapat dipotong menjadi beberapa bagian pendek. Potongan tersebut kemudian beredar di media sosial dan dikonsumsi oleh orang yang bahkan tidak pernah melihat episode lengkapnya.

Dengan demikian, satu pernyataan yang sebenarnya hanya merupakan bagian kecil dari percakapan dapat berdiri sendiri di hadapan publik.

Ketika Satu Jam Percakapan Menjadi 30 Detik

Fenomena clipper membuat persoalan ini semakin menarik.

Dalam sebuah podcast, seorang narasumber mungkin memiliki kesempatan menjelaskan sebuah persoalan selama beberapa menit. Ia dapat memberikan konteks, menyampaikan latar belakang, kemudian sampai pada kesimpulan.

Namun, sebuah clip mungkin hanya mengambil 30 detik dari keseluruhan penjelasan tersebut.

Konteks yang panjang bisa hilang.

Yang tersisa adalah satu pernyataan, satu respons, atau bahkan satu ekspresi yang kemudian dikonsumsi sebagai konten tersendiri.

Bukan berarti fenomena clipper selalu negatif. Justru potongan video dapat membantu sebuah percakapan menjangkau audiens yang jauh lebih luas. Bagi organisasi dan figur publik, hal tersebut juga dapat menjadi peluang komunikasi yang sangat besar.

Tetapi peluang tersebut sekaligus membawa konsekuensi: narasumber tidak lagi sepenuhnya mengendalikan bagaimana sebuah percakapan akan dikonsumsi.

Karena itu, kemampuan berbicara spontan saja tidak selalu cukup.

Percakapan Boleh Mengalir, Pesan Tetap Perlu Arah

Di sinilah relevansi key message menjadi semakin penting.

Memiliki key message bukan berarti seorang narasumber harus menghafalkan jawaban atau membuat percakapan terdengar seperti naskah.

Justru sebaliknya.

Key message berfungsi sebagai kompas agar narasumber memahami apa yang paling penting untuk disampaikan ketika percakapan berkembang ke berbagai arah.

Dalam podcast, hal ini menjadi semakin relevan karena formatnya memungkinkan pembahasan yang panjang dan cair.

Seorang narasumber dapat saja bercerita tentang pengalaman pribadi, memberikan opini, menjawab pertanyaan host, atau masuk ke topik lain yang muncul secara spontan. Tetapi di tengah semua itu, ia tetap perlu memahami:

  • Apa yang sebenarnya ingin saya sampaikan?

  • Apa yang ingin saya agar audiens ingat?

  • Informasi mana yang relevan untuk dibagikan dan mana yang sebaiknya tetap menjadi ranah pribadi atau internal?

  • Jika jawaban saya dipotong menjadi satu klip pendek, apakah pesan tersebut masih merepresentasikan apa yang ingin saya sampaikan?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan untuk membuat percakapan menjadi kaku.

Justru persiapan yang baik memungkinkan seseorang berbicara dengan lebih natural karena ia mengetahui batas dan arah komunikasinya.

Podcast Tetap Boleh Santai

Penting untuk membedakan antara kesiapan komunikasi dan komunikasi yang terlalu scripted.

Podcast tidak perlu berubah menjadi konferensi pers.

Narasumber tetap dapat bercanda, bercerita, tertawa, dan memberikan respons spontan. Karakter percakapan yang santai justru merupakan salah satu kekuatan podcast.

Yang perlu berubah adalah kesadarannya.

Ketika seseorang berbicara di ruang yang berpotensi menjangkau publik secara luas, percakapan tersebut tidak lagi sepenuhnya bersifat privat.

Apa yang awalnya terasa seperti obrolan santai dapat menjadi pernyataan publik.

Apa yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai bagian kecil dari cerita dapat menjadi potongan video yang beredar luas.

Dan apa yang awalnya hanya ditujukan kepada satu jenis audiens dapat dikonsumsi oleh audiens dengan latar belakang, kepentingan, dan interpretasi yang sangat beragam.

Dari Podcast Menuju Komunikasi Publik

Perkembangan podcast memperlihatkan bahwa cara kita berkomunikasi dengan publik juga terus berubah.

Podcast dapat menjadi ruang hiburan, edukasi, storytelling, maupun diskusi yang serius. Bagi perusahaan, pemimpin, profesional, maupun organisasi, podcast juga dapat menjadi ruang untuk membangun reputasi dan menyampaikan perspektif kepada stakeholder.

Karena itu, hadir dalam podcast sebaiknya tidak lagi dipandang sekadar sebagai kesempatan untuk "ngobrol".

Podcast telah Berkembang Menjadi Ruang Komunikasi Publik

Dan ketika sebuah percakapan telah menjadi komunikasi publik maka kesiapan pesan menjadi penting.

Bukan berarti setiap kata harus direncanakan.

Bukan berarti setiap jawaban harus terdengar formal.

Dan bukan berarti narasumber harus kehilangan kepribadian.

Yang dibutuhkan adalah pemahaman mengenai apa yang ingin disampaikan, siapa yang mungkin mendengarkan, batas apa yang perlu dijaga, serta bagaimana pesan tersebut kemungkinan akan dikonsumsi kembali oleh publik.

Inilah bagian dari apa yang dapat disebut sebagai Communication Readiness.

Pada akhirnya, podcast boleh panjang. Percakapan boleh mengalir. Narasumber boleh tampil apa adanya.

Tetapi ketika sebuah percakapan berpotensi menjadi konsumsi publik, pesan tetap membutuhkan arah.

Sebab dalam komunikasi publik, bukan selalu siapa yang paling banyak berbicara yang paling diingat.

Melainkan siapa yang mampu menyampaikan pesan yang paling relevan, jelas, dan bermakna.(*)

© 2026 MAKATA. All rights reserved

NAVIGASI
LAYANAN KAMI
HUBUNGI KAMI

Konsultan strategic communication untuk membantu perusahaan membangun pesan yang tepat, menjaga reputasi, dan mencapai tujuan bisnis.