Media Mana, Platform Apa, dan Cocok untuk Siapa?
Sheila On 7 tidak anti podcast. Bukan berarti juga hanya mau bicara di radio. Ini tentang bagian dari strategi komunikasi yang mencakup pemahaman terhadap karakteristik media masing-masing.
Sugeng Sulaksono
5/8/20264 min read


“Yang dibahas tidak selalu harus normatif. Sebenarnya (di radio) bisa dikupas lebih dalam tetapi dengan batasan-batasan tertentu yang membedakan dia (radio) dengan yang tren sekarang - yaitu - podcast.” Akhdiyat Duta Modjo, Vokalis Sheila On 7 (Official TikTok Sheila On 7, 30 Juli 2026)
Ketika sebuah media sedang populer, ada kecenderungan bagi organisasi untuk merasa perlu hadir di dalamnya.
Podcast sedang berkembang? Kita perlu masuk podcast.
Televisi memiliki jangkauan luas? Kita perlu tampil di televisi.
Media online memiliki audiens besar? Kita perlu mendapatkan pemberitaan.
Cara pandang yang terdengar masuk akal. Semakin banyak media yang digunakan, semakin besar pula peluang sebuah organisasi menjangkau publik.
Namun, komunikasi strategis tidak selalu sesederhana itu.
Sebuah contoh menarik datang dari Sheila on 7 (SO7).
Di tengah popularitas podcast sebagai salah satu ruang percakapan publik, band yang telah berkarier lebih dari dua dekade tersebut justru memiliki alasan tersendiri untuk lebih memilih radio.
Dalam wawancara yang muncul baru-baru ini, vokalis SO7, Duta, menjelaskan bahwa radio terasa lebih nyaman bagi mereka. Salah satu pertimbangannya adalah adanya batas dan koridor dalam penyiaran radio. Ia juga menegaskan bahwa SO7 bukan band yang terbiasa menjadikan kehidupan pribadi para personelnya sebagai konsumsi publik.
Bagi mereka, masih banyak cerita tentang perjalanan musik yang dapat dibagikan tanpa harus membuka sisi pribadi.
Gitaris SO7, Eross Candra, memberikan perspektif yang berbeda namun saling melengkapi. Baginya, radio memiliki hubungan yang sangat kuat dengan perjalanan SO7. Radio ikut membuka jalan bagi musik mereka untuk dikenal publik sejak awal karier. Karena itu, radio memiliki tempat tersendiri bagi SO7. Eross juga mengakui bahwa dirinya memang tidak terlalu menyukai banyak bicara dan melihat podcast memiliki karakter audiens yang berbeda.
Menariknya, dari dua pandangan tersebut kita tidak perlu menyimpulkan bahwa radio lebih baik daripada podcast.
Pelajaran yang lebih penting justru ada di balik pilihan tersebut: Tidak semua media harus kita datangi.
Source: Official TikTok Sheila on 7
Media Bukan Sekadar Tempat Menyampaikan Pesan
Dalam praktik komunikasi, media sering dipandang hanya sebagai saluran distribusi.
Pesan sudah dibuat kemudian tinggal menentukan akan disampaikan melalui media apa.
Padahal, setiap media memiliki lingkungan komunikasi yang berbeda.
Radio memiliki karakter percakapan dan kedekatan dengan pendengar yang berbeda dengan televisi. Media online memiliki kebutuhan pemberitaan dan struktur informasi yang berbeda dengan podcast. Podcast memberikan ruang percakapan yang relatif panjang, sementara video pendek menuntut pesan yang dapat dipahami dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Karakteristik tersebut memengaruhi bagaimana sebuah pesan sebaiknya disampaikan.
Karena itu, memilih media sebenarnya merupakan bagian dari strategi komunikasi.
Media yang Populer Belum Tentu Media yang Paling Tepat
Popularitas sebuah media memang penting. Namun popularitas bukan satu-satunya pertimbangan.
Bagi organisasi, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukan hanya: "Media mana yang paling banyak ditonton?"
Tetapi: "Media mana yang paling tepat untuk tujuan komunikasi kita?"
Jawabannya dapat berbeda tergantung kebutuhan.
Jika perusahaan ingin menjelaskan persoalan yang kompleks secara mendalam, format percakapan panjang mungkin lebih sesuai.
Jika ingin menyampaikan informasi secara cepat dan mendapatkan perhatian publik dalam waktu singkat, format yang lebih ringkas dapat menjadi pilihan.
Jika ingin menjangkau komunitas tertentu, media dengan karakter audiens yang spesifik mungkin justru lebih efektif.
Dengan kata lain, media selection adalah bagian dari message strategy.
Pesan yang sama belum tentu menghasilkan dampak yang sama ketika disampaikan melalui media yang berbeda.
Memahami Media Berarti Memahami Audiens
Memilih media pada dasarnya juga berarti memilih lingkungan tempat pesan akan diterima.
Audiens radio memiliki kebiasaan konsumsi informasi yang berbeda dengan audiens televisi. Orang yang mendengarkan podcast secara utuh memiliki pengalaman yang berbeda dengan mereka yang hanya menemukan potongan percakapan melalui media sosial.
Perbedaan tersebut penting karena komunikasi tidak berhenti ketika sebuah pernyataan selesai disampaikan.
Pesan kemudian diterima, ditafsirkan, dibagikan, dikutip, bahkan mungkin dipotong dan dikemas kembali dalam format yang berbeda.
Karena itu, organisasi perlu memahami bukan hanya siapa yang ingin dijangkau tetapi juga bagaimana audiens media tersebut mengonsumsi informasi.
Seringkali Memilih Media Berarti Memilih Batas
Di sinilah pertimbangan SO7 menjadi menarik.
Pernyataan Duta menunjukkan bahwa memilih media juga berkaitan dengan bagaimana sebuah organisasi atau figur ingin mengelola batas antara apa yang layak menjadi konsumsi publik dan apa yang sebaiknya tetap menjadi ranah pribadi. Ia menyebut radio sebagai tempat yang menurutnya lebih sesuai bagi SO7 untuk bercerita, antara lain karena adanya koridor penyiaran dan pertimbangan tanggung jawab moral.
Ini merupakan aspek yang sering luput dalam strategi komunikasi.
Ketika seseorang menerima undangan wawancara, pertanyaannya bukan hanya: "Apa yang bisa kita dapatkan dari media ini?"
Tetapi juga: "Apakah karakter media ini sesuai dengan cara kita ingin berkomunikasi?"
"Seberapa jauh informasi yang kita sampaikan dapat dikendalikan konteksnya?"
"Siapa saja yang kemungkinan akan mengonsumsi konten tersebut?"
Dan yang tidak kalah penting:
"Apakah narasumber yang kita pilih memang cocok dengan format dan karakter media tersebut?"
Tidak semua orang harus menjadi narasumber podcast.
Tidak semua isu harus dibawa ke televisi.
Tidak semua pesan harus disampaikan melalui media online.
Dan tidak semua kesempatan mendapatkan publikasi harus diterima.
Dari Media Presence Menjadi Media Fit
Di sinilah organisasi perlu mengubah cara pandang.
Tujuan komunikasi bukan sekadar mendapatkan sebanyak mungkin media exposure.
Yang lebih penting adalah mendapatkan media fit.
Media fit terjadi ketika setidaknya tiga hal dapat dipertemukan:
Tujuan komunikasi
Apa yang ingin dicapai?Karakter audiens
Siapa yang ingin dijangkau?Karakter media
Bagaimana media tersebut bekerja dan bagaimana audiensnya mengonsumsi informasi?
Namun ada satu elemen lain yang juga penting:
Karakter narasumber
Seseorang yang sangat kuat dalam wawancara televisi belum tentu tampil optimal dalam podcast berdurasi dua jam.
Seorang ahli teknis yang sangat baik menjelaskan persoalan secara mendalam belum tentu menjadi narasumber terbaik untuk video berdurasi satu menit.
Begitu pula seorang pemimpin yang terbiasa dengan komunikasi formal mungkin membutuhkan pendekatan berbeda ketika harus berhadapan dengan format percakapan yang sangat cair.
Karena itu, memilih media juga berarti memastikan adanya kesesuaian antara media, pesan, audiens, dan narasumber.
Communication Readiness Dimulai Sebelum Wawancara
Kesiapan komunikasi tidak dimulai ketika kamera sudah menyala atau mikrofon sudah berada di depan narasumber.
Kesiapan dimulai jauh sebelumnya: Memahami Isu, Menentukan Tujuan, Mengenali Audiens, Memahami Karakter Media, Menentukan Pesan Utama, Memilih Narasumber yang Tepat. Dan tentu saja mempersiapkan cara penyampaian yang sesuai dengan format media tersebut.
Inilah bagian dari Communication Readiness.
SO7 mungkin memiliki alasan yang sangat personal maupun historis dalam memilih radio. Namun dari sudut pandang komunikasi, pilihan mereka memberikan pelajaran yang relevan bagi organisasi mana pun.
Tidak semua media harus kita datangi hanya karena sedang populer.
Yang lebih penting adalah memahami karakter media dan menentukan di mana pesan kita memiliki peluang terbaik untuk diterima oleh audiens yang tepat, dengan cara yang sesuai dengan karakter organisasi dan narasumbernya.
Karena komunikasi yang efektif bukan tentang hadir di semua tempat.
Komunikasi yang efektif adalah hadir di tempat yang tepat, dengan pesan yang tepat, kepada audiens yang tepat, melalui narasumber yang tepat.(*)


© 2026 MAKATA. All rights reserved
NAVIGASI
LAYANAN KAMI
HUBUNGI KAMI


Konsultan strategic communication untuk membantu perusahaan membangun pesan yang tepat, menjaga reputasi, dan mencapai tujuan bisnis.
