Ketika Anggota DPR Copas dari AI untuk Jawab Pertanyaan Wartawan, Apa yang Sebenarnya Hilang?
Pentingnya Memahami dan Memiliki Pesan. Belajar dari Contoh Kasus Anggota DPR Jawab Pertanyaan Wartawan Pakai Chat GPT
Sugeng Sulaksono
5/13/20263 min read


Di era ketika setiap orang dapat menghasilkan jawaban dalam hitungan detik dengan bantuan AI, nilai seorang pemimpin tidak lagi diukur dari seberapa cepat dia merespon.
Nilainya justru terletak pada kemampuannya memahami persoalan, menentukan sikap, dan menyampaikan pesan yang mencerminkan tanggung jawabnya.
Program berbasis konteks, simulasi, rekaman, dan evaluasi untuk menyiapkan pemimpin serta juru bicara menghadapi situasi komunikasi nyata.
Kalimat di atas juga kami copas dari AI. Bagus secara kata-kata dan mengena secara makna.
Tapi tentang anggota DPR melakukan copas jawaban dari AI atas rentetan pertanyaan wartawan secara tertulis, jujur menghebohkan sih buat kami. Ini peristiwa yang cukup menarik untuk kita bahas.
Kronologisnya begini: teman kami seorang jurnalis salah satu media nasional mencoba wawancara seorang anggota DPR. Tentang salah satu isu penting yang sedang cukup rumit. Berkaitan ketahanan pangan nasional.
Wawancara dimaksud adalah by phone. Tapi tidak kunjung disambut teleponnya. Akhirnya terjadi komunikasi secara teks (chat) via WhatsApp berujung beberapa poin pertanyaan dikirimkan.
Selang sekian jam, jawaban sang anggota DPR diterima. Terkejut lah karena copy paste (copas) sepenuhnya dari AI dengan ikon-ikon khas Chat GPT yang umum kita ketahui bersama.
Itu semestinya adalah jawaban atas pertanyaan yang bukan normatif. Tentang isu spesifik yang membutuhkan pandangan serta sikap murni seorang manusia yang menjabat sebagai anggota dewan sesuai bidangnya.
Kami yakin peristiwa ini memunculkan berbagai respons. Sebagian menganggapnya sebagai bentuk kemalasan, sebagian lain melihatnya sebagai bukti bahwa AI kini telah menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari.
Padahal, persoalan utamanya bukanlah apakah seseorang menggunakan AI atau tidak.
Persoalan yang lebih mendasar adalah: siapa yang sesungguhnya sedang berbicara?
Dalam komunikasi publik, terutama bagi pejabat negara, pimpinan perusahaan, maupun juru bicara organisasi, masyarakat tidak hanya mencari informasi. Mereka ingin memahami sikap, pertimbangan, dan arah kebijakan dari orang yang memegang tanggung jawab tersebut.
Ketika seorang pemimpin memberikan pernyataan, publik ingin mengetahui bagaimana ia memaknai sebuah persoalan, bukan sekadar memperoleh rangkaian kalimat yang terdengar rapi.
Di sinilah AI memiliki batas yang jelas.
AI mampu membantu menyusun struktur jawaban, merangkum informasi, bahkan menawarkan berbagai alternatif sudut pandang. Namun AI tidak ada kepemilikan atas kebijakan, tidak memahami dinamika internal organisasi, tidak menanggung konsekuensi politik maupun bisnis, dan tidak memiliki tanggung jawab atas dampak dari setiap pernyataan yang disampaikan.
Karena itu, AI seharusnya menjadi asisten berpikir, bukan pengganti berpikir.
Dalam praktik media training, terdapat satu prinsip yang selalu ditekankan: pesan yang baik tidak lahir ketika pertanyaan datang, tetapi telah dipersiapkan jauh sebelum wawancara dimulai.
Seorang narasumber yang memahami isu akan mampu menjawab pertanyaan dengan bahasanya sendiri. Bahkan ketika menerima pertanyaan yang tidak terduga, ia tetap dapat mengembalikan pembicaraan kepada pesan-pesan utama (key messages) yang ingin disampaikan organisasinya.
Sebaliknya, ketika seseorang sepenuhnya bergantung pada jawaban instan, sering kali yang muncul hanyalah jawaban yang benar secara tata bahasa, tetapi tidak mencerminkan posisi, kepentingan, maupun perspektif institusi yang diwakilinya.
Inilah yang membedakan informasi dengan komunikasi strategis.
Informasi dapat dibuat oleh siapa saja, termasuk AI. Namun komunikasi strategis menuntut adanya penilaian, konteks, empati terhadap audiens, serta kemampuan memilih pesan yang paling tepat untuk mencapai tujuan tertentu. Semua itu tetap merupakan tanggung jawab manusia.
Perkembangan AI justru menghadirkan tantangan baru bagi para pemimpin dan juru bicara. Kecepatan memperoleh jawaban bukan lagi keunggulan utama. Yang semakin bernilai adalah kemampuan menyaring informasi, memberikan konteks, menentukan prioritas pesan, dan menyampaikan pandangan yang mencerminkan kepemimpinan.
Karena pada akhirnya, publik tidak sekadar ingin mengetahui apa yang terjadi. Mereka ingin mendengar apa yang dipikirkan oleh orang yang bertanggung jawab atas persoalan tersebut.
Itulah sebabnya media training saat ini tidak lagi sekadar melatih seseorang berbicara di depan kamera atau menjawab pertanyaan wartawan. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesiapan berpikir, menyusun pesan-pesan utama, dan memastikan setiap pernyataan benar-benar merepresentasikan organisasi yang diwakilinya.
AI akan terus berkembang dan menjadi bagian dari dunia komunikasi. Namun satu hal tidak berubah: kredibilitas tetap dibangun oleh manusia.
Pada akhirnya, teknologi dapat membantu menyusun kata-kata, tetapi kepemimpinan tetap berbicara melalui cara manusia memberi makna pada setiap kata yang dipilih.
© 2026 MAKATA. All rights reserved
